Berita

Hikayat

Sastra klasik Betawi (yang masih berbentuk manuskrip atau tulisan tangan) pada umumnya, berkisah tentang hikayat yang bersumber dari khasanah sastra lokal maupun nonlokal. Yang lokal biasanya bersumber dari kisah dunia perwayangan. Misalnya Hikayat Wayang Arjuna, Hikayat Asal Mulanya Wayang, dan Lakon Jaka Sukara. Yang nonlokal bersumber dari kisah-kisah Timur Tengah. Misalnya Hikayat Nahkoda Asyik, Hikayat Merpati Mas dan Merpati Perak, dan Hikayat Sutan Taburat.

Manuskrip sebagaimana disebut di atas, disalin oleh Muhammad Bakir pada akhir abad 19. Manuskrip karya Bakir ini, ditulis dengan aksara Jawi atau sering disebut arab gundul. Bakir menghasilkan manuskrip tidak kurang dari 60 judul. Sebagian besar manuskrip itu tersimpan di luar negeri seperti di Leningrad, Rusia; Belanda dan Inggris.

Sumber: Berbagai Sumber

Jampe

Jampe Betawi adalah teks lisan yang memadukan kosakata berbagai bahasa dengan pilihan kata yang mementingkan persamaan bunyi atau rima. Teks lisan ini diyakini mempunyai keistimewaan karena para penggunanya memanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Misalnya untuk pengobatan, mengusir roh jahat, agar mendapatkan kemudahan dalam usaha dan sebagainya. Karena fungsinya seperti itu, maka orang-orang yang membaca dan memanfaatkannya adalah orang-orang tertentu, seperti dukun, dan tetua adat.

Beberapa sumber mengatakan bahwa Jampe Betawi sebenarnya paling sarat dengan nilai sastra. Pembacaan jampe oleh para dukun bukan hanya memancarkan aura magis yang menyembuhkan orang sakit, tapi intonasi dan cara baca itu pun memiliki kekhasannya sendiri sehingga pada situasi itu tercipta panggung sastra. Boleh dikatakan jampe adalah salah satu jenis sastra lisan yang kemunculannya paling awal karena faktor kegunaannya bagi publik.

Berikut contoh jampe (jampe untuk mengobati penyakit bengok):

Nene unduk-unduk 

Kaki unduk-unduk 

Ada daging mengungsir 

Daging mengungsir uda kaga 

Ada daging si kapes-kapes

Si kapes-kapes uda kaga 

Pes limpes urip wares

Sengidu putih 

Yah, ora apa-apa 

 

Sumber: Berbagai Sumber 

Pantun Betawi

Pantun Betawi sebagaimana pantun pada masyarakat Melayu umumnya, mempunyai kaidah atau pakem yang sudah baku. Bila pada pantun masyarakat Melayu yang hidup selama ini, sifatnya sangat formal, maka pantun Betawi justru sebaliknya. Ciri pantun Betawi yang mencolok adalah penggunaan Bahasa Betawi yang khas dengan pilihan kata dan unsur bunyi yang terkesan kocak, spontan, dan blak-blakan.

Kecairan pantun Betawi dapat kita temui dalam format yang “melenceng” dari pakem. Pakem pantun pada umumnya terdiri atas 4 baris, 2 baris pertama disebut sampiran, dua baris terakhir disebut isi. Penting diketahui pola penulisan pantun dikenal dengan istilah rima. Rima artinya persamaan suku kata pada tiap akhir baris atau dikenal dengan pola ab-ab.

Keistimewaan pantun Betawi justru berpola lebih bebas. Selain berpola rima ab-ab dikenal pula pola aa-aa. Begitupula dalam hal baris, berpola 4 baris yang disebut pantun, dan berpola 2 baris yang disebut karmina. Bahkan ada yang berpola 6 baris.

Berkenaan dengan isi pantun, sejumlah pantun Betawi mengungkapkan berbagai nasihat yang berkaitan dengan etika, moral, adab, sopan santun, humor, nasihat, ajaran-ajaran agama, dan kritik sosial.

Berbalas pantun sering digunakan dalam acara perkawinan yang biasa disebut Buka Palang Pintu. Caranya, si keluarga mempelai pria menjelaskan maksud kedatangan mereka dengan menggunakan pantun Betawi. Keluarga mempelai wanita juga menjawab dengan pantun, sehingga terjadilah berbalas pantun.

 

Sumber: Berbagai Sumber